<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ippho Santosa</title>
	<atom:link href="http://ippho.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ippho.com</link>
	<description>Pakar Otak Kanan &#38; Penulis Mega-Bestseller</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 09:21:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Rahasia Sukses Orang Jepang</title>
		<link>http://ippho.com/373/rahasia-sukses-orang-jepang</link>
		<comments>http://ippho.com/373/rahasia-sukses-orang-jepang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 12:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan yang lalu (2011) membawa nikmat tersendiri bagi saya. Betapa tidak? Pertama, saya diundang beberapa kali oleh stasiun televisi terkait 7 Keajaiban Rezeki yang kebetulan menjadi buku terlaris dan seminar terbesar di Indonesia sepanjang 2010-2011. Kedua, 7 Keajaiban  Rezeki diseminarkan 3 kali di Hongkong dan 2 kali di Jepang, dengan dukungan penuh dari Dompet Dhuafa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan yang lalu (2011) membawa nikmat tersendiri bagi saya. Betapa tidak? Pertama, saya diundang beberapa kali oleh stasiun televisi terkait 7 Keajaiban Rezeki yang kebetulan menjadi buku terlaris dan seminar terbesar di Indonesia sepanjang 2010-2011. Kedua, 7 Keajaiban  Rezeki diseminarkan 3 kali di Hongkong dan 2 kali di Jepang, dengan dukungan penuh dari Dompet Dhuafa.<span id="more-373"></span> Dan tentu saja, selama di Jepang saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sejumlah kota. Katakanlah di Tokyo, Chiba, Ibaraki, Tsukuba, Hamamatsu, Yokohama, dan Shizuoka (Gunung Fuji). Nah, selama berada di sana setidaknya ada tiga hikmah pembelajaran yang saya petik. Dan tiga hikmah inilah yang akan saya share kepada Anda. Boleh?</p>
<p>Pertama, keramahan. Jamak diketahui, Tokyo merupakan kota dengan penduduk paling padat sedunia. Lihat saja pusat keramaian di Shibuya, yang kebetulan menjadi lokasi shooting film Hachiko, Too Fast Too Furious (Tokyo Drift), dan Resident Evil terbaru. Di sana, ribuan orang menyeberang jalan setiap menitnya. Benar-benar ribuan. Semuanya bergegas. Namun demikian, mereka tetap menjaga keramahan. Contoh kecil saja, di kereta-kereta mereka masih memberikan prioritas duduk kepada lansia.</p>
<p>Selain itu, mereka juga menghargai pejalan kaki, orang asing, kebersihan, antrian, dan anti-klakson. Walau cenderung individualis khas perkotaan, namun mereka tidak pernah melupakan senyuman dan bungkukan badan ketika berinteraksi. Beberapa kali saya masuk toko dan tidak membeli apapun. Tahu apa yang terjadi? Ternyata si pelayan toko tetap mengantar saya sampai di pintu, membungkukkan badan, dan mengucapkan “Terima kasih banyak,” sambil tersenyum lebar. Ramah kan? Itu tidak jadi membeli lho. Bayangkan, kalau jadi membeli.</p>
<p>Kedua, kejujuran. Bukan cuma paling padat, Tokyo juga kota dengan biaya hidup paling mahal sedunia. Sekadar contoh, untuk menggunakan jasa taksi dari airport Narita ke pusat kota Tokyo, Anda harus merogoh uang hampir Rp 3 juta rupiah! Parkir di pusat kota Tokyo? Hm, jangan ditanya! Per jam bisa habis ratusan ribu rupiah! Saking mahalnya properti di sana, KPR-nya bisa 40 tahun! Kendati dibebani biaya hidup begitu tinggi, anehnya di sana hampir-hampir tidak ada pencurian, penjambretan, dan perampokan.</p>
<p>Bahkan kalau barang Anda tertinggal di suatu tempat, tidak perlu panik. Kembalilah ke tempat tersebut dan ambillah barang Anda. Kemungkinan besar, barang Anda tetap utuh. Lihatlah, betapa jujurnya mereka. Padahal banyak di antara mereka yang tidak beragama. Di KTP mereka saja tidak tercantum agama, karena pemerintah menganggap agama tidak terlalu penting dalam kehidupan bernegara. Kuil terkenal di Meiji-Jingu, Harajuku, hanya menjadi simbol spiritual dan tidak diikat oleh aturan agama tertentu.</p>
<p>Ketiga, harga diri. Jepang adalah negara ulet, jauh dari budaya malas-malasan. Tambahan lagi, mereka punya harga diri, jauh dari budaya meminta-minta. Perlu dicatat, tidak semua orang makmur di sana. Itu sudah fitrah semua negara. Iya kan? Akan tetapi, jangankan meminta-minta, menerima tips saja dianggap memalukan bagi mereka. Baik satpam, janitor, pelayan, atau siapa saja, tidak terbiasa menerima tips. Dalam konteks lain, kerap diberitakan, di sana pejabat-pejabat yang ketahuan korupsi atau sejenisnya, pasti mundur bahkan bunuh diri. Saking malunya! Di Indonesia? Boro-boro mundur. Disuruh mundur saja, masih bersikeras. Boro-boro bunuh diri. Salah-salah, orang lain yang dibunuhnya. Ketahuilah, rezeki berpihak pada mereka yang menjaga harga diri. Seperti yang disinggung di bagian awal buku, inilah mental kaya.</p>
<p>Kembali soal berpuasa di Jepang. Walau saya berpuasa 2 sampai 3 jam lebih lama dibanding di Indonesia, walau saya sama sekali tidak merasakan suasana bulan puasa, walau saya susah sekali mencari tempat sholat dan makanan yang halal, namun semua kendala itu saya anggap ringan. Beneran, ringan. Apalagi setelah saya memetik tiga hikmah di atas. Puasa hendaknya luar biasa. Karena menjadikan kita insan yang lebih jujur dan lebih menjaga harga diri. Itu yang semestinya. Bukankah puasa itu ibadah rahasia dan tidak bisa riya-riyaan? Bukankah puasa itu melatih pengendalian diri bahkan terhadap sesuatu yang halal? Bukankah di bulan puasa digalakkan untuk mengeluarkan sedekah, zakat harta, dan zakat fitrah? Memberi, bukan berharap diberi.</p>
<p>Terakhir, ingatlah. Indonesia merdeka ketika bulan puasa. Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa ketika bulan puasa. Nabi Muhammad memenangkan perang Badar ketika bulan puasa. Bahkan Nabi Muhammad menaklukkan Mekkah ketika bulan puasa. Luar biasa kan? Lha, sudah tahu begitu, apa pantas kita mengisi bulan puasa hanya dengan malas-malasan dan tidur-tiduran? Sungguh, tidak pantas. Tolong dicatat, dalam bulan puasa, kalau diam saja adalah ibadah, apalagi berkata-kata yang baik? Kalau tidur saja ibadah, apalagi bekerja dan bekinerja? Sekali lagi, puasa hendaknya luar biasa! Right?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/373/rahasia-sukses-orang-jepang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Keajaiban Rezeki</title>
		<link>http://ippho.com/89/7-keajaiban-rezeki</link>
		<comments>http://ippho.com/89/7-keajaiban-rezeki#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 17:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Dari Mekkah ke Jeddah, dari Jeddah ke Mekkah, ditemani buku 7 Keajaiban Rezeki. Subhanallah! Buaaagus! - Ust. Yusuf Mansur, Wisata Hati Ternyata otak kanan mengubah cara pandang kita. Give first, listen first. Salut utk Mas Ippho. Saya banyak belajar dari buku ini. Semoga bertambah lagi pengusaha yang belajar dari buku ini dan menggunakan otak kanannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Dari Mekkah ke Jeddah, dari Jeddah ke Mekkah, ditemani buku 7 Keajaiban Rezeki. Subhanallah! Buaaagus!<br />
<span>- Ust. Yusuf Mansur, Wisata Hati</span></p></blockquote>
<p><span id="more-89"></span></p>
<blockquote><p>Ternyata otak kanan mengubah cara pandang kita. Give first, listen first. Salut utk Mas Ippho. Saya banyak belajar dari buku ini. Semoga bertambah lagi pengusaha yang belajar dari buku ini dan menggunakan otak kanannya.<br />
<span>- Sandiaga Uno, Salah Satu Orang Terkaya di Indonesia</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Saya SMS teman-teman tentang buku ini, terutama tentang halaman 44 dan 98. Sebagian saya belikan buku ini. Tahu-tahu malamnya saya dapat rezeki nomplok Rp 150 juta! Tunai! Subhanallah, betul-betul dahsyat otak kanan!<br />
<span>- H. Musa, SH, MH, PNS, Pekanbaru</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Selesai bikin seminar 7 Keajaiban Rezeki untuk kader-kader PKS se-Bali, paginya saya dapat tiga rezeki besar yang tidak disangka-sangka! Dapat ide efisiensi senilai puluhan juta, dapat bisnis air senilai ratusan juta, dan dapat lahan belasan hektar! Kalau dirupiahkan, itu semua nilainya belasan miliar!”<br />
<span>- Eka Setiawan Karim, Pengusaha Properti, Denpasar</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Ajaib! Setelah membagi-bagikan buku ini, saya dapat mobil Xenia 2009!<br />
<span>- Citra Kamal, Pemilik Apotik Bunda, Bogor</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Siapa sangka, hanya dengan sedikit sedekah, SMS tentang buku ini, dan meminjamkannya, eh Habib dikasih mobil!<br />
<span>- Habib, Medan</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Alhamdulillah, dengan membaca buku ini, saya dapat rumah gratis dan kebun kelapa sawit gratis!<br />
<span>- Johan Iskandar, Lampung Tengah</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Setelah baca, saya langsung jadi dealer utama mobil Estilo se-Bangka-Belitung dan langsung laku 2 unit dalam 3 hari! Subhanallah!<br />
<span>- Zarril, Sungai Liat, Bangka</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Dua hari setelah ikut seminarnya, permohonan KPR saya senilai setengah miliar langsung disetujui! Padahal sebelumnya, sudah tiga bulan tidak pernah disetujui. Sekarang buku 7 Keajaiban Rezeki sedang mutar di keluarga.<br />
<span>- Among Kurnia Ebo, Mentor EU, Jogjakarta</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Waktu mau beli rumah, saya disuruh bayar DP Rp 45 juta. Begitu saya terapkan salah satu keajaiban di buku ini, tahu-tahu kemudian saya ditelepon developer dan disuruh bayar DP cuma Rp 5 juta! Allahu Akbar!<br />
<span>- Reka Yusmara, Jawa Pos Group, Surabaya</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Sebelumnya, omzet bisnis saya cuma ratusan juta per bulan. Begitu menerapkan Perisai Langit, hanya dalam hitungan bulan, omzet tembus 5 sampai 10 miliar per bulan! Kemudian saya rutin bersedekah 10 persen dari profit kotor. Sekarang alhamdulillah saya punya bisnis macam-macam, mulai dari truk, ekpedisi kapal, alat berat, tambak ikan, sampai perumahan.<br />
<span>- Zulfadli Assegaff, Owner www.MantapMuliaBersaudara.com</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Dulu saya sempat ngojek dan kerja serabutan. Demi Sepasang Bidadari, saya pun kerja borongan. Ternyata hanya dengan bekerja 5 jam, hasilnya bisa memberangkatkan haji untuk 3 orang, yaitu saya, istri saya, dan ibu saya! Pernah juga saya membeli mobil hanya dengan Rp 5 juta! Ajaib! Sekarang alhamdulillah saya punya 7 rumah dan mengantarkan cabang saya menjadi cabang terbaik se-Indonesia!<br />
<span>- Suyanto, Cluster Coordinator PNM Kalsel-Kalteng &amp; Owner www.SumberKubah.com</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Saya sudah punya lima buku karya Bung Ippho. Mei tahun 2010 ananda saya, Vega, menghadiahkan buku 7 Keajaiban Rejeki. Semua anjuran di buku tersebut kami tingkatkan. Sungguh menakjuuuuuubkan! Juni dan Juli ini, alhamdulillah, Galang Saudi berhasil melayani 696 orang jemaah umrah! Benar-benar angka yang fantastis! Saya pun menghadiahkan buku ini ke kenalan-kenalan saya. Sampai-sampai saya kirim ke Boston, Amerika!<br />
<span>- Onyai Chas (Rina Chas), Pemilik Galang Saudi, Domisili di Mekkah</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Alhamdulillah, ternyata di generasi saya ada yang mendapat hidayah. Insya Allah, bagi siapa saja yang mau menerapkan isi buku ini akan mendapatkan berkah dan rezeki yang buuesaaar buuangeeet! Sayalah buktinya!<br />
<span>- Werkudoro Amin, Direktur, Palembang</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Tidak sampai 99 hari setelah mengikuti seminar 7 Keajaiban Rezeki, keajaiban pun terjadi! Alhamdulillah, omzet Juli 2010 tembus Rp 2,9 miliar!<br />
<span>- Syaifur, Konsultan Properti, Rumah 19, Pontianak</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Mas, terima kasih atas inspirasi, motivasi, dan ketulusannya. Setelah menerapkan 7 Keajaiban Rezeki, saya mampu menunaikan zakat harta 5 kali lipat daripada tahun yang lalu! Pelipatgandaan rezeki! Dan banyak sekali kebahagiaan yang saya rasakan tahun ini!<br />
<span>- Ustadzah Tating Faridah, Pemilik Bilqis Collection, Ciamis</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Setelah menerapkan tiga keajaiban, omzet bisnis saya naik 1000 persen!<br />
<span>- Didik Nur Hakim, Sales Manager, BNI Life Insurance</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Alhamdulillah, dengan membaca 7 Keajaiban Rezeki, penerimaan siswa baru tahun ini meningkat 500 persen dari tahun lalu.<br />
<span>- Syamsul Qamar, Batu Licin, Kalsel</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Baru saja membaca dan menerapkan sepertiga isinya, eh, omzet silikon dan plastik saya naik 100 persen! Sepertinya, sebentar lagi naik 600 persen!<br />
<span>- Lim, Sidoarjo</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Luar biasa sekali buku ini! Bikin omzet saya meledak! Sumpah!<br />
<span>- Ridho Fadhil, Jambi</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Semua buku Mas Ippho meledakkan kepala saya! Termasuk buku ini! Baru berjalan 15 hari, sudah terasa keajaibannya!<br />
<span>- Fahrur, Pendiri Matematika Dahsyat Indonesia</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Alhamdulillah setelah membacanya, saya meraih juara 1 se-provinsi Kepri!<br />
<span>- Anton Sunyoto, SPd, Guru SMAN 4, Batam</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Saya jurnalis. Tahu sendiri kan berapa gaji jurnalis. Buku ini kurikulum kehidupan bagi saya. Akhirnya, saya bisa beli mobil baru, rumah ketiga, dan insya Allah berhaji dengan istri tahun ini!<br />
<span>- Firmansyah Lafiri, Redaktur Tribun Timur</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Dengan pertolongan Allah melalui buku ini, dalam waktu hitungan jam kami berhasil menghimpun dana puluhan juta dan membiayai ratusan anak-anak tidak mampu.”<br />
<span>- Ria Asrul, Pimpinan Yayasan Miftahul Jannnah, Rawamangun</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Setelah menerapkannya, saya mulai menuai tanda-tanda dari-Nya. Hari ini juga saya langsung menyedekahkan rumah saya!<br />
<span>- Prasetyo, Pengusaha Ayam Bakar, Batam</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Selesai baca, saya langsung menyedekahkan seluruh tabungan saya!<br />
<span>- Pembaca</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Sewaktu Mas Ippho berseminar di Semarang, saya memberanikan diri membeli Al-Quran Mas Ippho seharga Rp 5 juta. Padahal saya seorang Kristiani. Saya cuma berpikir, toh uang yang terkumpul untuk disedekahkan. Apa salahnya? Setelah acara itu, usaha suami saya kebanjiran order terus-menerus. Termasuk usaha saya sendiri, dapat repeat order dari klien besar!<br />
<span>- F. Vitayanti, Trainer &amp; Mantan Salah Satu Pimpinan HSBC</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Saya fotokopi beberapa kalimat di buku ini. Terus, saya faks ke teman-teman. Sebenarnya Santo saya juga mengajarkan, dalam memberi kita juga menerima.<br />
<span>- Merry, Pembatik, 54 Tahun, Rembang</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Dahsyaaat! Karena wahyu umum di buku ini, saya dapat ilham untuk bikin buku ke-3 saya. Juga saya bisa menjual buku ke-2 saya dengan cepat sekali!<br />
<span>- Anton Siswanto, Gembala Gereja &amp; Penulis Buku</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Bersedekah ratusan kali lebih besar daripada pendapatan? Omong kosong, pikir saya sebelumnya. Tapi setelah membaca buku ini, saya bisa bersedekah sebanyak itu tiap bulannya! Dan kurang dari 99 hari, saya betul-betul go national dengan terbitnya buku saya, Ternyata Sedekah Nggak Harus Ikhlas.<br />
<span>- Marah Adil, Pendiri Komunitas Pencinta Sedekah</span></p></blockquote>
<p>Dengan izin-Nya, buku mega-bestseller 7 Keajaiban Rezeki telah mengajaibkan puluhan ribu orang di Indonesia, Malaysia, Singapura, Timur Tengah, sampai Amerika Serikat, dalam hitungan hari! Adapun Percepatan Rezeki adalah penyempurna dari 7 Keajaiban Rezeki! Inilah inti segala inti, rezeki di atas rezeki!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/89/7-keajaiban-rezeki/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Jurus Terlarang!</title>
		<link>http://ippho.com/77/10-jurus-terlarang</link>
		<comments>http://ippho.com/77/10-jurus-terlarang#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 17:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Jangan sampai pesaing Anda membacanya! - Hermawan Kartajaya, World-Class Marketing Guru Nggak boleh banyak alasan, siapa saja yang ingin sukses wajib baca buku ini! Benar-benar paten! - Aldi Taher, Aktor &#38; Presenter Jurus-jurusnya berhasil mencerahkan orang-orang sales kami. Terbukti, sampai detik ini omzet kami naik terus! - Citra Dewi, Sales Coordinator, PT Rantau Berlian Motor, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Jangan sampai pesaing Anda membacanya!<br />
<span>- Hermawan Kartajaya, World-Class Marketing Guru</span></p></blockquote>
<p><span id="more-77"></span></p>
<blockquote><p>Nggak boleh banyak alasan, siapa saja yang ingin sukses wajib baca buku ini! Benar-benar paten!<br />
<span>- Aldi Taher, Aktor &amp; Presenter</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Jurus-jurusnya berhasil mencerahkan orang-orang sales kami. Terbukti, sampai detik ini omzet kami naik terus!<br />
<span>- Citra Dewi, Sales Coordinator, PT Rantau Berlian Motor, Sumut</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Buku paten, minim teori! Kurang sejam, habis saya baca dan langsung saya jadikan pedoman strategi. Hasilnya, saya langsung dipercaya departemen pertanian dan istana kepresidenan untuk membentuk Kelompok Media Agri yang menaungi empat media!<br />
<span>- Tony Setiawan, Dirut Kelompok Media Agri</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Buku ini titik baliknya Mas Ippho! Jangan baca bukunya yang lain! Ini saja sudah cukup! Gaya bahasanya, satu-satunya di Indonesia!<br />
<span>- Jaya Setiabudi, Pendiri Entrepreneur Camp &amp; YEA</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Seharusnya buku ini tidak boleh beredar. Berbahaya!<br />
<span>- Purdi Chandra, Pendiri Primagama &amp; EU</span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/77/10-jurus-terlarang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>13 Wasiat Terlarang!</title>
		<link>http://ippho.com/67/13-wasiat-terlarang</link>
		<comments>http://ippho.com/67/13-wasiat-terlarang#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 16:58:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Heboooh! Memang pantas masuk MURI! Pateeen! - Hendy Setiono, Pendiri Kebab Turki Baba Rafi Saatnya karyawan menyaingi pengusaha, dengan kitab ini! - Safir Senduk, Perencana Keuangan &#038; Penulis Bestseller Berkat kitab ini, saya ditunjuk jadi konsultan calon walikota! Bukan itu saja. Saya juga berhasil mengantarkan beliau menjadi pemenang pada 23 Oktober 2008! Thanks ilmunya, Mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Heboooh! Memang pantas masuk MURI! Pateeen!<br />
<span>- Hendy Setiono, Pendiri Kebab Turki Baba Rafi</span></p></blockquote>
<p><span id="more-67"></span></p>
<blockquote><p>Saatnya karyawan menyaingi pengusaha, dengan kitab ini!<br />
<span>- Safir Senduk, Perencana Keuangan &#038; Penulis Bestseller</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Berkat kitab ini, saya ditunjuk jadi konsultan calon walikota! Bukan itu saja. Saya juga berhasil mengantarkan beliau menjadi pemenang pada 23 Oktober 2008! Thanks ilmunya, Mas Ippho!<br />
<span>- Kapten Sar, Trainer</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Waktu membacanya, saya langsung ketawa terpingkal-pingkal! Dan sekarang saya jauh lebih kreatif dan out of the box dalam menjual. Makanya omzet bisa meningkat. Paten!<br />
<span>- Mu’minin, Marketing Staff, Telkomsel, Samarinda</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Kitab ini saya dapatkan setelah menempuh perjalanan 200 km. Wah, saya menyesal! Kalau tahu isinya begini, pasti sudah saya beli sebelum dicetak! Hasilnya, alhamdulillah, klinik saya makin ramai.<br />
<span>- Mahfudz Siddiq, Pemilik Klinik Terapi</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Baru baca beberapa halaman saja, saya langsung tertarik mengungkap isinya lebih jauh.<br />
<span>- Dhini Aminarti, Bintang Sinetron</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Peluncuran buku seperti ini pertama kalinya di dunia!<br />
<span>- Jaya Suprana, Pengusaha &#038; Penulis</span></p></blockquote>
<blockquote><p>Hanya untuk praktisi!<br />
<span>- Hermawan Kartajaya, World-Class Marketing Guru</span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/67/13-wasiat-terlarang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darah Lebih Kental Daripada Air</title>
		<link>http://ippho.com/53/darah-lebih-kental-daripada-air</link>
		<comments>http://ippho.com/53/darah-lebih-kental-daripada-air#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 15:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Hari gini, siapa yang tidak tahu Paris Hilton? Ia adalah anak dari Richard Hilton dan Kathy Richards, yang juga ahli waris dari Hilton Hotels Corporation dan perusahaan real estate ayahnya. Di bukunya Confessions of the Heiress, ia melontarkan sejumlah tips sebagai seorang pewaris, “Pertama, pastikan lahir di keluarga yang tepat. Kedua, miliki nama yang hebat.” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari gini, siapa yang tidak tahu Paris Hilton? Ia adalah anak dari  Richard Hilton dan Kathy Richards, yang juga ahli waris dari Hilton  Hotels Corporation dan perusahaan real estate ayahnya. Di bukunya  Confessions of the Heiress, ia melontarkan sejumlah tips sebagai seorang  pewaris, “Pertama, pastikan lahir di keluarga yang tepat. Kedua, miliki  nama yang hebat.”<span id="more-53"></span></p>
<p>Ada pula seabrek tips lainnya yang rasa-rasanya mustahil diamalkan  oleh orang kebanyakan. Sering saya bahas seminar-seminar saya bahwa  menjadi muda dan kaya adalah sesuatu yang sukar untuk diraih. Bahkan,  hampir-hampir mustahil. Hanya ada dua kemungkinan besar, apakah dia  menjadi selebriti atau meneruskan bisnis keluarga. Adakah kemungkinan  lain yang lebih masuk akal? Kalau memang masih ada, yah, silakan Anda  buat buku tentang itu. ah, terkait orang muda yang kaya, banyak orang  yang meremehkannya. Tukas orang-orang, &#8220;Ah, pantas saja dia kaya. Bisnis  moyangnya! Kalau cuma begitu, saya juga bisa.&#8221; Kelihatannya memang  segampang seperti itu. Padahal anak muda ini juga menghadapi masalah  tersendiri yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh entrepreneur yang  merintis bisnis dari nol.</p>
<p>Ada beberapa masalah, katakanlah utang yang kadung bertumpuk-tumpuk,  SDM yang terlanjur berjubel dan carut-marut, musuh bisnis di delapan  penjuru angin, tuntutan idealis dari orangtua, dan masih banyak lagi.  Repotnya lagi, itu semua dibebankan ke bahunya secara tiba-tiba jebret!  tidak melalui tahapan-tahapan. Beda dengan entrepreneur biasa. Terlepas  dari itu, bisnis keluarga, dosakah? Oh, tidak. Menurut saya, itu sih  sah-sah saja. Terutama di Asia, yang mana hubungan antar kerabat begitu  rapat. Lihat saja para penerus layaknya Anthony Salim, Putera Sampoerna,  Sudhamek AWS, dan Rahmat Gobel. Andai saya di posisi mereka, mungkin  saya juga melakukan hal yang sama meneruskan bisnis keluarga (Asalkan  cocok, tentunya). Ya, iyalah. Ngapain repot-repot mengotak-atik bisnis  dari nol yang kemungkinan berhasilnya jauh lebih kecil? Mendingan  menggarap bisnis yang telah teruji.</p>
<p>Ambil contoh Chatalia. Ia menangani bisnis yang ia dirikan bersama  ayahnya pada 2 Novemer 2002. Perusahaan ini menjadi pengelola ritel  sepatu ABS (All &#8216;Bout Shoes dan Arena Belanja Sepatu) Shoe Warehouse.  Kemudian ia mengembangkan ritelnya dengan konsep swalayan di mana  pengunjung dapat mencomot sendiri sepatu yang mereka suka. Gerai ABS  tersebar di Tangerang, Bandung, dan Bogor. Adapun investasi untuk  menegakkan gerai di Bandung mencapai Rp 6 miliar. Serupa dengan Annete.  Usai mengumpulkan jam terbang profesional selama lima tahun di  Australia, Annete kembali ke tanah air membantu bisnis keluarga Grup  Tugu Hotel. Seterusnya lulusan Teknik Komputer Monash University ini  mengendalikan bisnis resto Lara Djonggrang &amp; La Bihzad Bar dan Tao  Bar &amp; Dapur Babah Elite. Di sini, pemilik nama asli Melati  Tanjungsari kelahiran Malang ini mengutamakan ciri khas asli Indonesia.  Misinya, demi mengharumkan nama Indonesia ke pentas kuliner dunia. Tidak  tanggung-tanggung Megawati Soekarnoputri, Andi Malarangeng dan Murdaya  Poo masuk dalam daftar pelanggannya. Pada 2006 Annete merintis Restoran  Shanghai Blue dan Samarra.</p>
<p>Nah, jarang disadari oleh kebanyakan orang, bisnis keluarga memendam  benih-benih positif tersendiri. Apa saja sih? Pertama, tingkat loyalitas  yang lebih tinggi. Si anak pastilah nurut dan ngikut apa saja yang  diperintahkan oleh atasannya, yang kebetulan adalah ayah atau pamannya  sendiri. Bekerja sampai 12 jam sekalipun tidak masalah. Toh, itu untuk  dia dan keluarganya juga. Ada kompetitor atau krisis? Pasti akan dia  sikat habis-habisan. Bukan semata-mata karena bisnis, tapi juga demi  nama baik keluarga. Kedua, kadar pengenalan yang lebih intens. Buat apa  susah-susah merekrut orang lain yang belum jelas karakter dan  performance-nya? Penyesuaian dengan orang baru juga bukan perkara  gampang. Yah, mendingan ngambil kerabat sendiri yang sudah ketahuan  karakter dan performance-nya. Itulah alasan mengapa Sudono Salim  melantik putranya, Anthony Salim untuk memerintah seluruh kerajaan  bisnisnya. Ternyata dari dulu, yah sudah begitu.</p>
<p>Awal abad 13, tampuk kekuasaan Sang Penakluk Genghis Khan juga  diserah-terimakan kepada putranya, Ogadai Khan, yang lalu digilirkan  pada keturunan berikutnya, yakni Mangu Khan &amp; Kublai Khan.  Dampaknya, pengaruh Genghis Khan dan anak-cucunya terus bersemayam di  tanah Asia selama berabad-abad. Suatu tingkat pencapaian yang gagal  disamai oleh Alexander Agung sekalipun. Sejarah Genghis Khan barangkali  serupa dengan kisah Jackson Five, yang bertunas menjadi megabintang  sekaliber Michael Jackson, Janet Jackson, dan La Toya Jackson. Lagi pula  agama menganjurkan membantu anggota keluarga terlebih dahulu ketimbang  orang lain. Pepatah dari dataran Tiongkok juga mengisyaratkan, &#8220;Darah  lebih kental daripada air.&#8221; Keluarga itu lebih utama daripada  pertemanan, apalagi orang lain. Tentunya, jangan sampai menjurus ke  nepotisme yang salah kaprah. Ndak benar itu! Janet Jackson saja terpaksa  mendepak ayahnya sebagai manajer karena dianggap bermasalah.</p>
<p>Lantas, adakah sisi negatifnya? Ya pastilah. Masak mau enaknya saja?  Pertama, tercampurnya persoalan pribadi dengan bisnis. Sepasang  suami-istri yang tengah goncang rumah-tangganya, mana bisa ngurusin  pekerjaan sama-sama. Iya tho? Belum lagi kerabat-kerabat yang tidak  kebagian posisi. Tidak jadi soal apakah mereka kompeten atau tidak,  pasti tuh mereka jealous dan ngomel-ngomel. Dan tahukah Anda,  berdasarkan fakta sejarah, perang saudara (civil war) itu jauh lebih  kejam daripada perang manapun. Selalu seperti itu! Pada akhirnya,  hubungan antar anggota keluarga pun bisa retak bahkanberantakan.  Begitulah, persoalan keluarga berimbas ke bisnis atau sebaliknya  persoalan bisnis merembet ke keluarga. Vice versa.</p>
<p>Sisi negatif lainnya, apabila si orangtua kurang cermat, maka si anak  bisa manja, mau enaknya saja, dan ogah berproses. Dahlan Iskan,  pentolan Jawa Pos Group, malah melakoni kebalikannya. Beneran! Si anak  Azzrul Ananda justru digembleng dan &#8216;dipaksa&#8217; untuk tumbuh dari bawah di  perusahaannya. Nah, itu bagus. Jadi, akarnya kuat. Tidak seperti  tanaman cangkokan yang tiba-tiba saja nemplok di atas. Kedua mantan  atasan saya di Malaysia juga begitu. Anaknya dibiarin saja  berkeringat-keringat mengelola bisnis keluarga. Eh, bukan mereka tidak  sayang sama anak. Justru karena mereka sangat sayang. Mereka bersikap  begitu, karena ingin mendidik dan mengasah anaknya. Bukan digojlok  asal-asalan. Saya setuju itu. Begitulah, darah lebih kental daripada  air. Terakhir, saran saya untuk pengelola bisnis keluarga, hormatilah  entrepreneur yang merintis bisnis dari nol. Begitu pula entrepreneur,  hormatilah pengelola bisnis keluarga. Kedua-duanya memiliki dilema  tersendiri yang saya jamin masing-masing pasti terkaget-kaget seandainya  bertukar posisi. Percayalah, memang begitulah adanya. Saya sama sekali  tidak mengada-ada. Anda pikir saya tukang dongeng?</p>
<p>Saran saya khusus untuk pengelola bisnis keluarga, jangan pernah jadi  tumbuhan benalu, yang bisanya cuma morotin induknya. Tidak malu apa?  Jadilah pemberi pupuk, di mana Anda turut memelihara bahkan membesarkan  bisnis. Kalau orangtua Anda berhasil dengan bisnisnya, berarti Anda  harus lebih daripada itu. Bukankah Anda sudah diberitahu ilmunya tidak  perlu lagi menjalani sendiri untuk mengetahuinya. Bukankah Anda sudah  didukung materi tidak perlu lagi mengais-ngaisnya sendiri.</p>
<p><em>Dikutip dari buku <strong>10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing  Cara Biasa?</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/53/darah-lebih-kental-daripada-air/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis Pelayanan, Bisnis Persiapan</title>
		<link>http://ippho.com/51/bisnis-pelayanan-bisnis-persiapan</link>
		<comments>http://ippho.com/51/bisnis-pelayanan-bisnis-persiapan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 15:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu di Holiday Inn Bandung, saya berbagi pengalaman untuk Bio Farma, produsen vaksin terkemuka di tanah air yang berusia lebih dari 100 tahun. Esoknya, saya melototin konser Muse, band jenius asal Inggris yang menggemparkan dunia, bersama dengan 7.000-an penonton lainnya di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Walau terhitung tidak murah, tetap saja 95 persen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu di Holiday Inn Bandung, saya berbagi pengalaman untuk Bio  Farma, produsen vaksin terkemuka di tanah air yang berusia lebih dari  100 tahun. Esoknya, saya melototin konser Muse, band jenius asal Inggris  yang menggemparkan dunia, bersama dengan 7.000-an penonton lainnya di  Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Walau terhitung tidak murah, tetap  saja 95 persen tiketnya diborong oleh penonton (dan calo tentunya).<span id="more-51"></span></p>
<p>Bagi saya, musik Muse sangat eksentrik dan futuristik. Ah, pokoknya  sukar didefinisikan. Namun di atas segalanya, yang membuat saya  terperanjat adalah aksi panggung vokalisnya. Wuih, memukau! Sambil  menaik-turunkan vokalnya, tangannya tiada henti menyayat-nyayat gitar  dengan kecepatan tinggi.</p>
<p>Itu tok? Tidak, tidak. Selain berlari, sesekali ia juga berpose  layaknya rocker sejati. Bahkan tanpa beban, ia menukar-nukar instrumen  antara gitar dan piano (juga memainkannya). Dalam hati, saya bergumam,  “Wow, ini baru show!” Berbeda dengan aksi band Good Charlotte yang saya  tonton beberapa waktu sebelumnya menjemukan.</p>
<p>Esok siangnya saya ngobrol berjam-jam dengan seniman senior WS.  Rendra dan istrinya di Grand Hyatt Jakarta. Selain bertukar pikiran  tentang grup musik saya ANDALUS, kami juga menyinggung soal teater  dunianya Rendra. Ia mengaku, untuk sebuah pementasan berdurasi 2 jam  saja, ia membutuhkan persiapan sekitar 3 bulan. Sebagai pembicara  seminar, saya sih tidak heran. Karena saya juga menggodok persiapan yang  kurang-lebih serupa untuk sebuah topik. Dan saya yakin, Muse juga  begitu. Paling tidak, untuk penampilan perdana.</p>
<p>Ternyata bisnis berbasis pelayanan tak ubahnya seperti show, yang  mana identik dengan persiapan. Katakanlah, rumah sakit, salon, hotel,  dan bank. Begitu sebuah bank dibuka jam 8 teng, berarti sebuah show  dimulai. Bukan cuma itu, seluruh personil juga dituntut perform sesuai  skenario. Ndak boleh akting seenak udel. Untuk berapa lama sih?  Setidaknya, sampai 9 jam berikutnya. Nah, agar show berlangsung apik dan  menarik, maka persiapan kudu matang. Ya, iyalah. Mana boleh setengah  matang? Anda pikir telor mata sapi?</p>
<p>Dan perlu digarisbawahi, kadang kala durasi persiapan itu jauh lebih  lama daripada durasi show. Sebenarnya, persiapan sebuah bank memakan  waktu bertahun-tahun sebelum beroperasi untuk pertama kalinya. Setelah  beroperasi, tetap saja persiapan menjadi suatu keniscayaan. Itu tidak  bisa dipungkiri. Bentuknya bisa berupa morning briefing, rapat  harian,evaluasi bulanan, pelatihan berkala, koordinasi lapangan, dan  masih banyak lagi. Yah, persiapan demi persiapan.</p>
<p>Saya teringat ketika 2 hari berada di Disneyland belum lama ini.  Sekedar berbagi cerita, di sana setiap jengkal didesain tidak lain untuk  memuaskan indera penglihatan dan indera pendengaran  pengunjung-pengunjungnya. Sepertinya, segala khayalan masa kecil  dihalalkan di theme park tersebut. Beneran! Dan dapat dikatakan,  Disneyland betul-betul berhasil menjamu tamu-tamunya yang berdatangan  dari seluruh penjuru bumi.</p>
<p>Siangnya sempat saya menyaksikan pementasan opera Lion King, yang  jauh-jauh hari sudah dikenal sebagai film box office. Diperkaya dengan  tembang legendaris dari Elton John, Circle of Life dan Can You Feel The  Love Tonight, pementasan itu bagaikan dongeng. Betapa tidak? Tanpa  diduga-duga, para pemain muncul dari dasar lantai atau dari  langit-langit. Belum lagi binatang-binatang tiruan berukuran raksasa  yang berakting di tengah-tengah panggung. Dan segudang kejutan lainnya.  Dengan pementasan yang begitu mempesona, saya jadi tidak habis pikir  betapa melelahkan persiapan mereka.</p>
<p>Malamnya meski gerimis ada pertunjukan penutup yang tidak boleh  dilewatkan, yakni atraksi kembang api dan kobaran api di angkasa. Yang  satu ini lain lagi serunya. Asal tahu saja, atraksi tersebut menyeruak  di sela-sela istana yang megah. Silih-berganti, seolah-olah tiada henti.  Ribuan pasang mata dipaksa untuk terbelalak karenanya. Ditambah lagi  alunan musik Beauty and The Beast dan A Whole New World yang membahana  selama setengah jam. Telinga bak dininabobokan. Kok bisa, ya? Sekali  lagi, prinsip dasarnya ialah persiapan.</p>
<p>Seperti yang disinggung sebelumnya, bisnis riil terutama yang  berbasis pelayanan juga tidak luput dari faktor persiapan. Pelayanan,  mana mungkin dijamah (intangibility), mana mungkin disimpan (inventory  absence)? Sudah begitu, produksi dan konsumsi berlangsung serentak pula  (inseparability). Dampak pun sukar untuk diseragamkan (inconsistency).  Yah, lantaran variabel manusia dan variabel lingkungan. Istilahnya, 4  I&#8217;s of Service.</p>
<p>Mengingat keempat ciri tersebut, maka faktor persiapan menjadi kian  krusial. Jelas itu! Rasa-rasanya, tidak perlu diperdebatkan lagi.  Sebagai pembanding, tengok saja persiapan dan penampilan Muse, Rendra,  dan Disneyland. Ringkasnya, gagal mempersiapkan berarti Anda  mempersiapkan kagagalan. Camkan itu!</p>
<p><em>Dikutip dari buku <strong>Begini Harusnya Bisnis!</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/51/bisnis-pelayanan-bisnis-persiapan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambutlah Anti Brand</title>
		<link>http://ippho.com/49/sambutlah-anti-brand</link>
		<comments>http://ippho.com/49/sambutlah-anti-brand#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 15:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ippho.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Empat kontestan dari Belanda, Portugis, Jepang, dan Indonesia mengikuti perlombaan adu tahan terhadap bau busuk. Sesudah keempat kontestan dimasukkan ke dalam kandang kambing yang luar biasa tengiknya, lantas juri menghitung berapa lama mereka sanggup bertahan di dalamnya. Yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya. Setelah satu jam berlalu, pintu kandang kambing pun terbuka dan keluarlah si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empat kontestan dari Belanda, Portugis, Jepang, dan Indonesia  mengikuti perlombaan adu tahan terhadap bau busuk. Sesudah keempat  kontestan dimasukkan ke dalam kandang kambing yang luar biasa tengiknya,  lantas juri menghitung berapa lama mereka sanggup bertahan di dalamnya.  Yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya.<span id="more-49"></span></p>
<p>Setelah satu jam berlalu, pintu kandang kambing pun terbuka dan  keluarlah si Belanda dari kandang tersebut. Setelah dua jam berlalu,  pintu kandang kembali terbuka dan keluarlah si Portugis berbarengan  dengan si Jepang. Akibat didera bau busuk sekian lama, ketiga-tiganya  langsung semaput dan dilarikan ke rumah sakit.</p>
<p>Terus, bagaimana dengan si Indonesia? Jam demi jam dilewati, akan  tetapi ia tetap bertahan di dalam. Tepat duabelas jam, akhirnya pintu  kandang terbuka. Ternyata yang keluar bukannya si Indonesia, melainkan  si kambing! Sambil berjalan sempoyongan, si kambing menggerutu dalam  bahasa hewan, “Berani-beraninya manusia nyaingin gue.”</p>
<p>Persaingan, siapa sih yang sanggup menghindar darinya? Dan sudah  menjadi hukum alam, begitu mengorbit, merek akan berhadap-hadapan dengan  anti-brand. Di tanah air, kesuksesan Flexi dan Indomie mengundang  anti-brand namanya Esia dan Mi Sedaap. Hadir pula Filma, anti-brand-nya  Bimoli. Indopos, anti-brand-nya Kompas (Konon, inilah babak baru  pergulatan antara Dahlan Iskan dan Jakoeb Oetama).</p>
<p>Bagaimana di luar negeri? Yah, kurang-lebih sama saja. Kesuksesan  Windows dan PlayStation mengundang anti-brand bernama Linux dan X-Box.  Ada pula Warner Bros, anti-brand-nya Walt Disney. Papa John&#8217;s,  anti-brand-nya Pizza Hut. Seiring perjalanan waktu, gesekan anti-brand  pun semakin keras. Undoubtedly!</p>
<p>Persis seperti dunia entertainment, di mana popularitas seorang celeb  juga sering dibuntuti tentangan dan tantangan. Perlu contoh? Lihatlah,  Britney Spears yang dikecam oleh Christina Aguilera. Boy band Backstreet  Boys yang diejek oleh band alternatif Blink 182. Inul Daratista yang  dihujat oleh Rhoma Irama. Nah, apakah penolakan-penolakan itu berhasil  memudarkan popularitas mereka? Ternyata, apa yang terjadi malah  sebaliknya. Siapa sih yang meragukan ketenaran Britney, Backstreet Boys  dan Inul? Setidak-tidaknya ketika itu. Dunia politik pun tidak luput  dari pengecualian. Pamor SBY justru meroket bahkan menang telak saat  pemilu setelah dilecehkan sebagai anak kecil oleh lawan politiknya.  Sidang pembaca sekalian, itulah manfaat nomor satu dari anti-brand,  yakni melejitkan bahkan melambungkan popularitas.</p>
<p>Hei, tunggu dulu! Jangan salah paham, ya! Di sini saya tidak  berkhotbah bahwa anti-brand tidak perlu diwaspadai. Bukan, bukan!  Waspada, itu sih harus. Apa yang saya coba ungkapkan di sini adalah  sejumlah dampak positif yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Di antaranya, mengedukasi &amp; menghimpun konsumen, sehingga pada  akhirnya memperluas market size secara keseluruhan. Sebenarnya,  perseteruan tiada henti antara Kacang Garuda dan Kacang Dua Kelinci  memaksa konsumen untuk lebih aware akan keberadaan kacang ketimbang  snack yang lain. Selain itu, anti-brand juga memicu dan memacu potensi  diri. Lebih jauh lagi, anti-brand akan menebar citra positif pada  seluruh pemain sekaligus menjadi bahan benchmarking.</p>
<p>Jadi, soal musuh, nggak perlu dikuatirkan. Nabi saja punya musuh,  apalagi Anda! Justru kemasyhuran Anda patut diragukan, seandainya Anda  tidak pernah ditentang dan ditantang. Ada pepatah yang memperingatkan,  “Semakin tinggi pohon, semakin kuat anginnya.” Dirangkai dengan, “Kalau  Anda tidak ingin diterpa angin, maka jadilah rumput dan relakanlah diri  Anda untuk diinjak.” Hm, pilih yang mana? Bagi saya, akan jauh lebih  menyenangkan menjadi besar, meskipun untuk itu saya terpaksa digencet  oleh anti-brand. Siapapun dia!</p>
<p>Barangkali ada yang bertanya, “Saudara Penulis, apa yang mesti kami  perbuat jika nyatanya anti-brand tidak pernah muncul?” Aha! Anda telah  bertanya pada orang yang tepat. Jawaban saya, “Ciptakanlah anti-brand  bagi merek Anda sendiri!” Terkejut? Ah, kalau begitu, jantung Anda  terlalu lemah. Semestinya, Anda tidak perlu terkejut.</p>
<p>Coba cermati dulu Elex Media Komputindo, Grasindo dan BIP yang  merupakan seteru sekaligus sepupu dari Gramedia. Fanta, Sprite dan Sarsi  yang merupakan saingan terdekat sekaligus saudara terdekat dari Coca  Cola. Apa pula kaitan antara Radar Surabaya dan Jawa Pos? Mentari dan  Matrix? Citylink dan Garuda? Nissan dan Infiniti? Semua jawabannya sama:  anti-brand yang berasal dari satu keluarga besar. Begitulah anti-brand,  layak untuk disambut. Hm, ada pertanyaan?</p>
<p><em>Dikutip dari buku <strong>Hot Marketing: Cara Paling Panas Mengorbitkan  Merek</strong>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/49/sambutlah-anti-brand/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi 3G: Gila, Gelo, Gendeng</title>
		<link>http://ippho.com/1/teknologi-3g-gila-gelo-gendeng</link>
		<comments>http://ippho.com/1/teknologi-3g-gila-gelo-gendeng#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 01:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ippho.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, di sela-sela sebuah acara di Denpasar saya ngobrol dengan Purdi Chandra dan Mr. Joger, dua pengusaha yang terkenal humoris. Mr. Joger sempat bercerita bahwa dia tidak pernah sekalipun merasa sedih. Dia selalu gembira, antusias dan berpikir positif. Ternyata, konsep duka memang tidak ada dalam benaknya. Terus, dia bertutur tentang Purdi Chandra yang hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu, di sela-sela sebuah acara di Denpasar saya ngobrol dengan  Purdi Chandra dan Mr. Joger, dua pengusaha yang terkenal humoris. Mr.  Joger sempat bercerita bahwa dia tidak pernah sekalipun merasa sedih.  Dia selalu gembira, antusias dan berpikir positif. Ternyata, konsep duka  memang tidak ada dalam benaknya. Terus, dia bertutur tentang Purdi  Chandra yang hampir selalu berhasil dalam bisnis-bisnisnya.  Rupa-rupanya, Purdi Chandra memang tidak pernah memasukkan konsep gagal  ke dalam pikirannya.<span id="more-1"></span></p>
<p>Mirip-mirip dengan orang gila. Hush, jangan sembarangan! Lha, saya  serius! Apa pernah orang gila jatuh sakit? Jarang-jarang &#8216;kan? Itu  karena konsep sakit tidak pernah ada di benak orang gila. Tengok pula  anak kecil. Sebenarnya sih konsep takut tidak pernah terlintas di  kepalanya. Namun sayangnya, acapkali orangtuanyalah yang menjajal dan  menjejalkan konsep takut kepadanya, “Kalau kamu nakal, ntar digigit  anjing lho!” atau, “Kalau kamu nggak mau makan, bakal didatangin  kuntilanak lho!” Akhirnya, si anak jadi merinding beneran. Konsep takut  pun menyelinap dan bersemayam di otaknya.</p>
<p>Kesimpulannya, hati-hati dengan pikiran Anda. Pilah dan pilih konsep  yang patut bercokol di sana. Tayangan di televisi, majalah dan  suratkabar acap kali mencekoki otak Anda dengan hal-hal yang negatif.  Dan repotnya lagi, sering kali Anda tidak menyadarinya. Pst, kalau sudah  begitu, siapa sih yang rugi? Yah, Anda sendiri! Si pembuat acara mana  mungkin rugi! Rating acara meroket. Iklan-iklan pun berdesakan. Saldo  mereka pun melambung.</p>
<p>Kembali pada orang gila. “Hei, Penulis! Nggak salah nih? Kita yang  waras gini malah ngomongin orang gila!” Yah, mana mungkin orang gila  yang cerita tentang kita? Hahaha, saya bercanda. Bagi saya, orang-orang  yang luar biasa adalah orang-orang yang sedikit gila. Bukankah sesepuh  Intel, Andy Groove bersikeras, “Only paranoid can survive.” Yang gila,  yangbertahan. Makanya, gunakan Teknologi 3G alias Gila, Gelo, Gendeng.</p>
<p>Tentu saja, bukan dalam pengertian sakit jiwa. Tetapi maksudnya,  tidak jarang mereka berpikir dan berkhayal secara tidak rasional.  Betul-betul lateral. Pokoknya, rada ngawur, rada ngelantur. Sehingga  lingkungan di sekitarnya tanpa tedeng aling-aling menuding, “Ah, dasar  gila! Mana mungkinitu terjadi!” Toh, pada akhirnya itu terjadi juga.  Tidak perlu contoh. Anda pasti sudah sering menyaksikannya dalam  kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Menurut saya, untuk menjadi orang yang luar biasa, lakukanlah apa  yang tidak dilakukan oleh orang biasa. Kurang jelas? Baiklah, saya  tampilkan beberapa ilustrasi. Orang biasa menghabiskan waktunya 2-3 jam  sehari untuk menonton sinetron (Menurut sebuah riset, orang Indonesia  menghabiskan 2 jam 48 menit dalam sehari di depan televisi. Bilamana  dibandingkan dengan negara-negara lain, durasi itu terhitung lama).</p>
<p>Orang biasa menghabiskan Sabtu-Minggu-nya untuk bermalas-malasan.  Orang biasa menghabiskan waktu, uang dan kartu kreditnya di pusat-pusat  perbelanjaan. Ketahuilah, orang luar biasa tidak pernah melakukan semua  itu. Dan ketika Anda coba meniru orang luar biasa, saya jamin Anda akan  dicap &#8216;gila&#8217; oleh orang biasa. Tidak percaya? Lakoni saja!</p>
<p>Belum lama ini di Jakarta, saya bertemu dan bertukar pikiran dengan  Helmi Yahya, biangnya Reality Show di tanah air. Ketika ia berkisah  tentang betapa workaholic-nya dia semenjak kecil, saya langsung bergumam  dalam hati, “Dia telah membayar harganya dan dia pantas memperoleh  ganjarannya.” Lihat pula Aa Gym, pendakwah sekaligus pengusaha. Saya  menyaksikan sendiri bagaimana ia memanfaatkan waktunya menit demi menit  secara optimal. Dan kita semua maklum apa yang telah ia capai.</p>
<p>Sebelumnya, maafkan saya apabila tulisan saya kali ini sedikit  semrawut. Maklum, tulisan ini memang dibikin sespontan mungkin, seinstan  mungkin! Lagi pula, tulisan ini memang hanya untuk orang gila kok. Hei,  jangan tersinggung! Tetapi yang penting, Anda pilih yang mana? Menjadi  orang biasa atau orang luar biasa? Setidak-tidaknya, sebelum menjadi  orang luar biasa, Anda sudah menjadi orang biasa di luar &#8216;kan? Hahaha,  saya bergurau.</p>
<p>Sekali lagi, jadilah orang yang luar biasa! Meskipun untuk itu, Anda  kudu merelakan diri untuk dilabel &#8216;gila&#8217; oleh orang-orang di sekitar  Anda. Percayalah, sebenarnya gelar &#8216;gila&#8217; tersebut merupakan luapan  kekaguman alias pujian dari mereka. Ngomong-ngomong, beranikah Anda  mengusulkan kepada presiden untuk mencanangkan Hari Gila Nasional? Yah,  Anda uruslah sendiri. Kali ini saya tidak ikutan. Rasa-rasanya, saya  belum segila itu.</p>
<p><em>Dikutip dari buku <strong>10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing  Cara Biasa?</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ippho.com/1/teknologi-3g-gila-gelo-gendeng/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.820 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-05-11 09:32:45 -->
<!-- Compression = gzip -->
